Bagian II (selesai) : Tuhan Dalam Pandangan Kaweruh Jendra Hayuningrat




Bagaimana Memahami Petunjuk Eyang Wongsodjono Tentang Ketuhanan

Konsep Ketuhanan Kawruh Jendra Hayuningrat dengan filosofi Sang Hyang Ismaya (SEMAR). Masyarakat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang “Maha” dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama-agama asing masuk ke tanah Jawa dan bahkan sampai ke tradisi-tradisi yang berkembang hingga saat ini, yang dikenal dengan istilah aliran “Kejawen” yang merupakan “Tatanan Paugeraning Urip” atau Tatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur.

Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatu yang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari hari dan aturan positip, dengan maksud agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab atas setiap tindakan fisik dan rohaninya.

Mengenai Gusti Kang Murbeng Dumadi, Dalam Dhawuh Eyang Wongsodjono paring tuntunan, pituduh lan pitedah “Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan, jaman, bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi” atau dengan kata lain “ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali. oleh semua agama dan kepercayaan. Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain. Yang membedakannya hanya cara menyembah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman, waktu atau bangsa yang berbeda beda…”

Dalam Dhawuh Eyang Wongsodjono paring tuntunan, pituduh lan pitedah : sesungguhnya ada Tiga hal yang mendasari siswa Jendra Hayuningrat mengenai Konsep Ketuhanan yaitu :

1. Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.

2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Tepo seliro” artinya bila kita meraa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.

3. Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain “Ojo Seneng Mekso” seperti apa bila kita memiliki suatupakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain.

Dhawuh Eyang Wongsodjono memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada Khaliknya yaitu Manusia harus mengetahui Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi.

1. Tuhan Itu Satu, Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi”

2. Tuhan itu bisa mewujud apa saja, tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan. ”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.

3. Tuhan Itu ada dimana-mana.”Dadi Ojo Salah Panopo, Mulo nang ngendi papan uga ono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga “ing badan iro ugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa dan raga. Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.”Ananging ojo sepisan-pisan badan iro ngaku-aku Gusti” maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku bahwa dirinya adalah DIA.

4. Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi, dari masa dahulu, sekarang, esok dan sampai seterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.

5. Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhan itu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satupun kata hilaf dan lalai.

6. Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang.maksudnya Tuhan itu maha adil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.

7. Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya.

Dengan menyadari hal tersebut, melalui tuntunan, piwulang dan pengkhabaran kawruh Jendra Hayuningrat, setidaknya manusia di harapkan :

1. “Manungso urip ngunduh wohe pakertine dhewe dhewe” maksudnya manusia  menerima panen dari apa yang dia tanam, bila benih baik yang di tanam, maka buah-buah yang baiklah akan dia terima.

2. Manusia hidup pada saat ini adalah hasil / proses dari hidup sebelumnya atau”manungso urip tumimbal soko biyen, nek percoyo marang tumimbal” ada petuah yang mengatakan “ Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihat lah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang”.

3. “Manungso urip nggowo apese dhewe dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri, dengki, tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan menguntungkan kita.

4. Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal biso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi : ”maka Manusia hiduplah “sak madyo” dan tak perlu “nggege mongso”. Ada petuha mengatakan “ Hiduplah dengan berusaha, tapi janganlah terbuai dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan rugi diri kita juga”.

Maka dalam hal ini Dhawuh Eyang Wongsodjono paring tuntunan, pituduh lan pitedah : sebaiknya Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan ”Eling lan Percoyo, Sumarah lan sumeleh lan mituhu” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1. Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah ,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bhawa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan maka Allah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

2. Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya.

3. Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin.

Sesungguhnya Dhawuh Eyang Wongsodjono dalam paring tuntunan, pituduh lan pitedah dengan penuh kesabaran.. setiap Dhawuh-Nya adalah Budi Pekerti yang Luhur.. diatas adalah masih sebagian sampul dari tuntunan Beliau.. satu kata sederhana yang jika didefinisikan menjadi panjang sekali dan jika kita mulai terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari akan mengingatkan kita, bahwa sebenarnya kita adalah putra pangeran, dengan menjadi manusia berbudi pekerti yang luhur memayu hayuning bawono. Inilah ciri-ciri manusia-manusia sejati. manusia pilihan untuk dimasa yang akan datang.

Demikianlah sekilas tulisan yang bisa saya haturkan, mohon dipahami bahwa tulisan ini bukan untuk menyebut adanya TUHAN selain Allah, Tulisan ini berdasarkan pengalaman spiritual, tentang pengalaman atau perjalanan bergurunya seorang awam kepada sang Guru sejati yang akhirnya dipertemukan dengan sang Guru Bathin (Sang Adman). Tulisan ini hanya ingin menunjukkan kepada masyarakat Jawa bahwa sebenarnya masyarakat Jawa telah mengenal inti dari pengajaran agama-agama asing tersebut yang tak lain adalah bentuk ke Esa an dari TUHAN itu Sendiri. (selesai)

Salam _/\_ Rahayu

Posting Komentar